Angkat Analisis Wacana Kritis Album 'Wave to Earth', Haya Latifatul Aulia Sukses Lalui Ujian Skripsi
METRO – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) FKIP Universitas Muhammadiyah (UM) Metro kembali melahirkan akademisi muda yang kreatif dan kritis. Ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada Haya Latifatul Aulia yang telah sukses melaksanakan dan mempertahankan penelitiannya dalam ujian akhir (sidang skripsi).
Ujian akhir ini dihadiri dan diuji langsung oleh dewan penguji yang kompeten di bidangnya, yaitu:
-
Dosen Penguji: Drs. Bambnag Eko Siagiyanto, M.Pd.
-
Dosen Pembimbing 1: Fitri Palupi Kusumawati, M.Pd.BI.
-
Dosen Pembimbing 2: Dedy Subandowo, Ph.D.
Membedah Representasi Emosi Album Wave to Earth
Dalam penelitiannya, Haya menyajikan topik yang sangat relevan dengan tren musik global dan budaya populer anak muda saat ini. Ia menyusun penelitian berjudul "A Critical Discourse Analysis of Emotional Representation in Wave to Earth's Album '0.1 Flaws and All'".
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana emosi direpresentasikan di dalam lirik-lirik lagu pada album 0.1 Flaws and All milik band indie populer asal Korea Selatan, Wave to Earth. Analisis ini dibedah menggunakan kerangka kerja tiga dimensi Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) model Norman Fairclough (2010).
Menggunakan desain penelitian kualitatif, Haya mengumpulkan data berupa lirik resmi dari empat lagu pilihan di album tersebut, yaitu: bad, homesick, calla, dan peach eyes. Data lirik ini dikumpulkan melalui dokumentasi dari situs Genius.com dan diverifikasi validitasnya menggunakan YouTube Music.
Temuan Penelitian: Emosi Bukan Sekadar Ekspresi Pribadi
Melalui analisis mendalam dengan model tiga dimensi Fairclough—yang meliputi analisis tekstual (textual analysis), praktik diskursif (discursive practice), dan praktik sosiokultural (sociocultural practice)—Haya berhasil merumuskan beberapa temuan penting:
-
Dimensi Tekstual: Wave to Earth secara konsisten menggunakan kata ganti orang kedua, repetisi (pengulangan kata), pertanyaan retoris, serta metafora alam untuk membangun keintiman emosional dan penyampaian pesan yang langsung kepada pendengar.
-
Dimensi Diskursif: Setiap lagu menyajikan narasi emosional yang berbeda namun saling melengkapi. Lagu bad merepresentasikan kenyamanan dan koneksi, homesick menggambarkan rasa kehilangan dan keterasingan, calla menyuarakan dukungan tanpa syarat, serta peach eyes yang menunjukkan cinta dan kesetiaan yang mendalam. Ragam emosi ini diinterpretasikan oleh pendengar sebagai refleksi erat dari pengalaman hidup mereka sendiri.
-
Dimensi Sosiokultural: Tema-tema emosional tersebut mencerminkan nilai-nilai dalam budaya pemuda kontemporer saat ini, khususnya mengenai keterbukaan emosional (emotional openness), kerentanan diri (vulnerability), kesadaran akan kesehatan mental (mental health awareness), serta pencarian hubungan interpersonal yang bermakna.
Penelitian ini menarik kesimpulan bahwa emosi dalam lirik lagu tidak sekadar menjadi ekspresi personal sang penulis, melainkan dikonstruksikan secara diskursif melalui bahasa, yang sekaligus merefleksikan pengalaman sosial dan budaya kolektif yang dirasakan oleh generasi muda masa kini.
Selamat dan Sukses!
Keberhasilan Haya Latifatul Aulia dalam menyelesaikan penelitian ini membuktikan bahwa mahasiswa PBI UM Metro tidak hanya mampu menguasai aspek kebahasaan secara teoritis, tetapi juga jeli dan kritis dalam menganalisis fenomena komunikasi sosiokultural di era modern.
Selamat kepada Haya Latifatul Aulia, S.Pd. atas gelar sarjana yang diraih! Semoga ilmu yang didapatkan selama di bangku perkuliahan senantiasa bermanfaat dan menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus melahirkan karya ilmiah yang inovatif. (PBI/UM Metro)